Senin, 09 September 2013

Sang Selendang

Sehelai selendang itu kekbali terbang. terbang mengikuti arah angin. aku pun hanya bisa menatap dan berharap untuk bisa kembali mengenggam selendang itu. aku tidak mungkin mengerjar lagi. karena angin begitu kencang berhembus menerbangkan selendang indah itu. aku sudah berusaha untuk mengejarnya, namun aku tak mampu. aku pun melepaskan selendang itu terbang mengiringi arah angin yang menerbangkannya.  aku hanya bisa menatap dan terus menatap. hati kecil pun mulai memberontak, mengajak aku untuk mengejar sampai menemukan sang selendang kembali. aku pun berkata " aku sanggup untuk mengejarnya sampai ke belahan dunia lain, namun aku tak sanggup untuk menatap jika selendang itu jatuh ketangan orang lain, maka ku biarkan dia terbang bersama angin. seandainya selendang itu benar-benar milik ku, maka Tuhan senantiasa akan mengarahkan selendang itu untuk jatuh ke tangan aku. biarkan dia terbang sementara sehingga angin mereda dan menjatuhkan selendang itu kembali". namun sang hati pun mulai mengerti semua penjelasan ku itu. dia mulai sadar jika semua itu ketentuan-NYA. aku pun hanya dian dan terus berdoa. 

Kini hari-hari ku lewati dengan sang hati. dia sentiasa menemaniku dalam segalan kondisi. terkadang hati ini masih sangat merindukan selendang itu. begitu banyak kenangan yang terukir dengan sang selendang. terkadang hati menangis walaupun aku tak mengetahuinya. namun aku sadar dengan kondisi ini. kerinduan yang terbesar pun terkadang muncul tiba-tiba. aku hanya bisa menahan dan menghapun air mata hati yang terus terburai dan membasahi rongga jantung. dan sesekali air mata hati itu bercampur dengan darah yang mengalir ke seluruh badan. aku hanya bisa menenangkan semua itu. aku berharap semua ini bisa menjadi pelajaran yang berharga. aku tau begitu sayang dengan selendang itu. tapi aku tidak mau sang selendang tersakiti dengan goncangan angin yang begitu kuat. aku takut dia tersobek karena hempasan sang angin yang begitu kencang. aku biarkan dia terlepas dengan ketenangan dan kenyamanan yang dia inginkan. berharap suatu saat nanti aku bisa mendapatkannya kembali. aku tau mana yang terbaik yang harus aku jalani. 


Selamat jalan sang selendang. engkau yang masih kurindukan dan ku inginkan. kini kita sudah terpisah dan ku harap kau baik-baik di sana. doa ku kan selalu ada untukmu. mungkin suatu saat nanti kau pun akan tau kenapa aku melepaskanmu. dan ku berharap kau bisa mengerti tentang ini semua. jangan pernah salahkan angin yang begitu kencang menghembus mu dari ku. dan jangan salahkan genggamanmu ke aku yang tidak erat memegangmu. ini mungkin jalan terbaik yang mungkin akan ada saat yang lebih baik. senantiasa engkau dalam lindungan-NYA.





       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar